Workshop Asertifitas Anak

Selasa, 17-Januari-2012, 14:27 WIB

Pada tanggal 29 Desember 2011, atas dukungan dari Pemerintah Daerah Propinsi DI. Yogyakarta,  LSPPA  mengadakan kegiatan Workshop Asertifitas Anak (WAA) dengan tema “Menjadi Asertif, Siapa takut….!!”. Kegiatan dilaksanakan  salah satu kampung bantaran sungai Winongo Kota Yogyakarta.  Acara di buka oleh Ibu Dra. Sri Adiyanti, Kepala KPMP (Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan) Kota Yogyakarta. Acara di ikuti oleh 44 anak yang dibagi dalam 3 kelompok yaitu :

  1. Anak-anak  usia 10-12 tahun è sekolah dasar sejumlah 24 anak (17 Pr 7 Lk) 
  2. Anak-anak  usia 12-15 tahun è sekolah menengah pertama sejumlah 9 anak ( 5 Pr  4 Lk)
  3. Anak-anak  usia 15-18 tahun è sekolah menengah atas sejumlah 11 anak (  4 Pr   7 Lk) 

Workshop ini membekali anak-anak  ketrampilan asertif pada anak remaja, menumbuhkan konsep diri yang positif, meningkatkan harga diri anak remaja dan mengurangi tingkat kekerasan pada anak. ”Hasil pemetaan situasi dan kondisi anak di Kota Yogyakarta tahun 2011 di 12 Kelurahan menunjukkan sebagian besar anak mendapat tindak kekerasan di lingkungan keluarga dan sekolah”. Untuk itu perlunya anak-anak berani untuk berlaku asertif terhadap teman, keluarga, orangdewasa lainnya agar terhindar dari tindak kekerasan.Proses WAA di kelompok

Temuan-temuan dalam workshop asertivitas anak :

  1. PadaAnak-anak  usia 10-12 tahun atau usia sekolah dasar kebanyakan anak-anak mengalami masa transisi dari anak-anak ke pra remaja. Sehingga ketika lontarkan pertanyan sifat/ sikap/ perilaku/ ciri negatif pada diri, jawaban kebanyakan hampir sama yaitu :   mudah menangis, mudah sedih, mudah marah, cepat emosi, mudah tersinggung, dan sering kebingungan. Sedangkan sifat/ sikap/ perilaku/ ciri positif pada diri yang muncul lebih hal-hal normatif tentang diri misal: cantik, rajin belajar, pintar, baik, jujur, ganteng, suka membantu ibu.
  2. Anak-anak  usia 12-15 tahun usia sekolah menengah pertama anak sudah berani berkata apa adanya tentang yang dia alami dan dilakukan. Ketika di tanya sifat/ sikap/ perilaku/ ciri negatif pada diri semua permasalahan khas pada remaja muncul yang itu : kadang-kadang berbohong, suka ngerjain teman, ngompasi teman, kadang melihat bokep (film porno), merokok, suka putus asa, ngantukan, ngombenan/ mabuk, kalau tidak punya uang ngamen di jalan, berkelahi/ tawuran antar pelajar, maniak SMS/ FB, suka kewarnet dll. Sedangkan sifat/ sikap/ perilaku/ ciri positif  pada diri lebih susah memunculkan dengan alasan tidak percaya diri, takut dianggap sok PD, setiap hari sudah biasa menerima perlakuan negatif, gak biasa memunculkan hal-hal yang positif pada diri sendiri sehingga bingung dan merasa pada diri sendiri tidak ada yang positif, lebih asyik melihat kekurangan dari pada kelebihan.
  3. Anak-anak  usia 15-18 tahun atau usia sekolah menengah atas  anak berani berkata apa adanya tentang yang dialami dan dilakukan. Ketika di sampaikan pertanyaan sifat/ sikap/ perilaku/ ciri negatif maupun positif  pada diri, jawaban  sama persis dengan anak-anak usia SMP.  Anak-anak usia ini secara terbuka menyampaikan bahwa pernah ganti-ganti pacar, suka ngerjain teman, ngompasi teman, pernah melihat bokep, merokok, tawuran antar pelajar, maniak game online/ FB/SMS dll.